Hadapi Tantangan Cuaca, BRMP Sumbar Dorong Optimalisasi PM-AAS untuk Petani Sawahlunto
SAWAHLUNTO — Minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir memicu kekeringan parah di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Kondisi ini merusak ritme aktivitas pertanian setempat dan berdampak signifikan pada upaya percepatan tanam daerah.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Sawahlunto, Hendrawati, mengungkapkan bahwa rendahnya intensitas hujan membuat mayoritas petani tidak dapat mengolah lahan mereka. Hal ini terjadi mengingat dari total 205 hektar luas lahan sawah di Sawahlunto, sebagian besar bergantung pada pasokan air hujan (tadah hujan).
"Saat ini realisasi tanam baru mencapai 23 hektar, atau sekitar 11 persen dari target yang ditetapkan," ujar Hendrawati saat mendampingi kunjungan lapangan Tim LO Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sumatera Barat, Jumat (18/9).
Merespons krisis tersebut, Tim BRMP Sumbar bersama Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura serta Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kota Sawahlunto merapat ke lokasi untuk melakukan pendampingan teknis.
Selain memetakan area terdampak kekeringan, tim gabungan ini meninjau lokasi Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS). Peninjauan tersebut bertujuan untuk mengevaluasi perkembangan tanaman di tengah cuaca ekstrem, sekaligus merumuskan solusi konkret guna mengendalikan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang mengancam sisa pertanaman warga.